Archive for September, 2007

Bersemangat

11 September 2007

BismillahirRahmanirRahiim,

Alhamdulillah bisa nulis lagi (hmmm, kayak berat banget yah untuk nulis). Mau cerita tentang kedatangan 3 professor ke jurusan kami di Informatika-ITS. 2 dari Jepang dan 1 dari UI. Mereka kelihatan masih muda-muda, meskipun usianya kira-kira udah sekitar 50. Mungkin itu karena mereka enjoy yah dengan profesinya…

Sahabat,
saya terkesan dengan Prof. Tomonori Aoyama dari Keio University. Beliau hanya menampilkan sebuah judul presentasi : New Network Generation. Saya sendiri sebelumnya mengikuti kuliah tamu yang disampaikan oleh Dr. Glitho dari Ericcson Kanada (dosen juga, cuman lupa univ-nya) yang bercerita mengenai 4G sebagai suatu kesinambungan dari teknologi 3G. Judulnya aja “Towards Next Network Generation”.

Sebelum bertemu Prof. Aoyama kemarin, saya sempat membaca artikel dari TechRepublic mengenai statemen pemerintah Jepang yang akan memulai sebuah proyek yang didukung oleh banyak perusahaan dan universitas besar di Jepang. Proyek tersebut bertujuan untuk membuat suatu konsep jaringan baru yang akan menggantikan peran teknologi internet. Secara Total. Dan Jepang berinisiatif untuk menjadi penguasa pertama teknologi ini.

Ketika ditanya mengenai konsep ini, Prof. Aoyama menjawab dengan jawaban yang membuat saya terkagum. Beliau mengatakan bahwa konsep ‘pengganti internet’ ini adalah sebuah cita-cita. Jika ditanya bentuknya seperti apa, beliau menjawab bahwa hingga saat ini belum ada orang Jepang yang bisa menggambarkan secara utuh bagaimana teknologi baru ini berbentuk.

Orang Jepang hanya PERCAYA bahwa teknologi ini ada, cuman saat ini belum ditemukan dan mereka ber-CITA-CITA untuk menjadi yang pertama yang MENEMUkannya ! Ini adalah proyek jangka panjang, bukan sebuah proyek yang asal dananya turun. Prof. Aoyama memberikan gambaran, bahwa 20 tahun lalu, orang tidak ada yang menyangka internet akan menjadi seperti sekarang. So, mereka YAKIN bahwa TIDAK MUSTAHIL akan menemukan teknologi baru ini sebagaimana dulu orang menemukan internet.

Subhanallah,
Sudah terlalu banyak contoh orang, kelompok, masyarakat ataupun negara yang punya visi dan misi yang jelas akan lebih mudah mencapainya daripada orang, kelompok, masyarakat ataupun negara yang ragu dengan cita-citanya. Atau malah lebih parah, tidak punya cita-cita !

So, mari kita lihat hasil dari SEMANGAT ‘saudara tua’ kita ini. Tapi akan lebih baik jika kita menjadi sadar dan menetapkan satu proyek baru : Menemukan teknologi baru ini sebelum orang Jepang menemukannya. Simple, hehehe….

Wallahu’alam.

Jangan Marah dan Bagimu Surga

5 September 2007

BismillahirRahmanirRahiim,

Sahabatku,
Maaf jika tulisan ini asal comot judul dari majalah OASE milik LMI yang ada di kolom Ust. Rofi’ Munawar, Lc.

Sahabatku,
Marah memang memiliki dimensi yang unik. Marah adalah satu dari beberapa ekspresi manusia yang bekerja layaknya pisau. Bisa baik, bisa buruk. Tergantung siapa, kapan dan bagaimana menggunakannya. Marah akan menjadi baik jika dengan marah itu akan ada manfaat yang lebih besar.

Yang perlu kita perhatikan adalah seruan Rasulullah kepada kita untuk tidak marah. Bahkan sampai 3x. Kira-kira kenapa ya ?

Dulu ada teman yang menemui saya dengan wajah sedih. Dia bercerita, suatu siang yang panas, dia bertengkar dengan istrinya mengenai masalah yang sebenarnya sepele. Dia tidak suka istrinya bicara dengan suara lebih keras dari suaranya. Pertama dia marah dengan membentak istrinya, maklum lagi panas hawanya. Karena tidak ada yang mau mengalah, bahkan istrinya ikut marah juga. Akhirnya, HP yang kebetulan ada di sampingnya dia lempar. Hancur. Tambah panas, karena melihat HP-nya hancur. Mau menyesal, malu. Akhirnya dia tambah marah hingga akhirnya dia melakukan satu hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya, menampar istri !

Dia sangat menyesal. HP melayang. Istrinya minta dipulangkan. Dia kini sendirian menyesali kesalahannya. Dia marah.

Lain kali, ada teman yang datang ke saya. Dia mengeluhkan salah satu karyawan seniornya yang sekarang suka bermalas-malasan. Tugasnya jarang ada yang beres. Dia bertanya, bagaimana ya caranya agar karyawan itu tahu bahwa dia bersalah. Saya sarankan agar dia memarahi karyawan tersebut. Kira-kira sebulan kemudian, dia datang dengan wajah sumringah. Dia bilang kalo karyawannya sudah kembali ‘bersinar’ seperti dahulu. Setelah dia tanyakan, karyawan tersebut sangat kaget karena belum pernah dimarahi bos-nya. Dia akhirnya introspeksi dan meningkatkan kinerjanya.

Sahabatku,
saya tidak menyarankan anda untuk marah atau tidak marah. Saya menyarankan agar anda mengenali siapa ‘kemarahan’ itu. Kendalikan dan manfaatkan !