Pengakuan

Bismillah,

Sahabat,
Siang ini, salah seorang dosen menunjukkan nilai-nilai yang kami dapatkan dalam satu semester ini, Alhamdulillah, saya termasuk yang mendapat nilai memuaskan. Jujur, saya sangat senang. Rasanya apa yang saya lakukan selama perkuliahan ini tidak percuma. Naif memang, karena kalo ditanya : emang kamu kuliah cari nilai apa ilmu ?, tentu saja ilmu itu yang ingin kita dapatkan, tapi manusiawi khan kalo nilai itu juga harus proporsional dengan ilmu yang didapatkan. Adalah menyakitkan jika nilai yang kita dapatkan ternyata lebih rendah dibandingkan teman kita yang secara empiris kurang mampu di bidang itu. Naif, yah… tapi manusiawi (hehehe… keluar egois-nya).

Lalu,
jadi teringat istri tercinta di rumah… Ya Allah, iya yah… nilai yang cuman berupa angka tanpa rasa saja bisa membahagiakan seperti itu, apalagi pengakuan dan pujian dari kekasih hati atas apa yang telah dilakukan. Saya jadi ingat, bagaimana istri di rumah harus merawat kedua anak kami yang dalam tahap rewel-rewelnya (beserta segala kelucuannya, i luv you all), merawat rumah mungil kami, menyiapkan segala kebutuhan kami (hehehe, saya pemalas seh untuk masalah domestik ini :p) memberikan perhatian dan segalanya kepada kami, dan di sela-sela itu masih disempatkan melakukan dakwah dan kegiatan sosial. Belum lagi selama kuliah intensif ini, semua urusan usaha kami secara teknis saya serahkan kepadanya… duh, berat banget yah jadi istriku…

Meskipun begitu,
Istriku jarang sekali mengeluh. Dia pernah bilang, kalo dia hanya mengeluh jika beban itu sudah tidak dapat ditanggungnya lagi. Subhanallah, istriku… Dan ajaibnya lagi, dia tidak terlalu menuntut masalah duniawi (meskipun dia tahu saya InsyaAllah bisa). Sekali waktu dia pernah bilang : Aa, melihat Aa senyum aja kelelahan ini langsung hilang. Aa mau makan masakan Dede’ aja, semua beban rasanya melayang, dan mendengar Aa menanyakan kabar aja, Dede’ rasanya menjadi wanita paling bahagia sedunia. Wow,…

Artinya,
Yah, harusnya saya lebih bisa instropeksi. Senyum harus dimurahin dikit, makan di rumah harus jadi hobi dan paling tidak, lebih care ke istri. Yah, siapa lagi tempat berbagi kalo bukan dengan dia ? Yah, harusnya saya lebih bisa mengerti betapa pentingnya dia dalam hidup ini. betapa besar kontribusinya terhadap sejarah hidup ini, dan betapa besar cintanya dalam menghangatkan kehidupan ini.

Duh istriku, I love you… maafkan suamimu yang terlalu angkuh untuk selalu mengaku, betapa penting dirimu… Alhamdulillah ya Allah, terima kasih istriku !

Wallahu’alam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: