Masa Kecil

Bismillah,

Sahabat,
di awal-awal tahun kemunculan saya di bumi ini, saya merasakan hidup yang bahagia. Paling tidak dari sudut pandang saya yang naive. Sepertinya, semua orang memberikan perhatian dan kasih sayang. Begitu saya nangis, huaaaa…., cepat-cepat saudara yang lain akan mencoba menenangkan dan mengalah…

Hingga tiba saatnya, adik saya terlahir ke dunia. Yah, sepertinya semua orang mencabut perhatian dan kasih sayang. Begitu saya nangis, hua…, cacian dan cubitan segera berhamburan mencoba menghentikan tangisan… ah, dunia !

Sahabat,
seingat saya, di masa kecil saya melihat sesuatu dengan lebih proporsional. Pernah saya mendebat kakak saya yang hanya memberikan satu ikan ketika saya makan. Alasan saya gini : “nih coba hitung, nasi saya kan lebih dari seratus biji, harusnya saya ngambil seratus ikan, ini khan saya sudah ngalah cuman ngambil empat !”, dan tentu saja bukan pujian atas argumentasi saya yang cukup hebat itu yang saya dapatkan, tapi plakkk… yah, tamparan deh… tapi kalo ingat bahwa semua kakak saya cuman dapet separoh ikan, agak nyesel juga seh… hehehe

Sahabat,
di antara teman-teman saya yang lain, saya dikenal sebagai anak pemberani, atau lebih tepatnya anak nekat lah. Ceritanya, waktu main petak umpet, hampir dipastikan tidak akan ada yang bisa menemukan saya, karena yang jadi pilihan tempat mengumpet adalah tempat yang paling seram dan gelap. Ceritanya lagi, waktu ada yang nyariin dan melihat saya, dia bilang kalo saya sedang berdiri dekat kepala sapi. Yah, kepalanya aja tanpa ada badannya… hih… untungnya saya ngga pernah ingat hal itu, jadi yah mesem-mesem saja kalo ada yang cerita mengenai ‘keberanian’ saya 🙂

Sahabat,
di lain sisi, saya punya keterbatasan fisik yang signifikan. Tubuh saya mungil. Yah, hingga kelas 6, saya masih sering berdiri di barisan anak kelas 1 atau kelas 2, karena mereka dapat tempat yang teduh, tanpa kelihatan mencolok dari barisan para guru. Dan karena itu pula, dulu saya sempat jadi ‘korban tetap’ pemerasan dari teman-teman yang lebih besar. Tapi yang lebih jadi korban lagi yah, bapak dan emak saya yang saya porotin lebih karena jatah normal saya ngga cukup untuk setor ke para pemeras. ih, kasihan deh aku…

Tapi,
ada hikmahnya juga kok. Mulai kelas 5 SD dulu, saya dikaruniai nilai yang lebih bagus dari teman-teman lain. Singkat kata, saya termasuk sumber referensi jika ada PR atau ulangan, yah… jadi punya senjata untuk menangkis pemerasan (mengalihkan pemerasan, dari pemerasan harta ke pemerasan intelektual, uh, what’s life its pity me). Dan, katanya di kalangan guru-guru, saya dikenal sebagai ‘the new habibie’ wah… dan konsisten lho sampai saya SMA (gr gpp khan 🙂

Oke, segini dulu deh, lain kali insyaAllah dilanjut…. Wallahu’alam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: