Respect berarti Respek

Alhamdulillah bisa nulis lagi sekarang, meskipun sedang bersedih :(. Saudara-saudara, jum’at kemarin saya baru tahu mendapat nilai D dalam salah satu mata kuliah. Agak shock juga. Wuih, meskipun logika saya sudah bisa menerima, namun ada suatu hal yang membuat saya selalu pening dan ngga bergairah jika mengingat nilai itu. Childish mungkin, namun jika kronologi ini dialami oleh Anda, mungkin bisa jadi childish atau tidak…

Kuliah ini saya ikuti dengan serius dan antusias pada dasarnya. Namun karena belum punya dasar hampir ‘sama sekali’ dalam kuliah ini, saya sering eksplor materi pendukung lain dari internet. Punya beberapa advantages sih, pertama saya bisa lebih tahu materi atau pengayaannya dengan lebih jelas (thanks mbah google), dan kedua paling tidak saya ngga ngantuk… πŸ™‚

Ngga tahu juga kenapa kalo di ruang ber-AC (pengalaman dulu di S1 dan kerja di PASTI) ngantuk dan pusing itu jadi menu utama. Mungkin karena orang ndeso itu yah hehehe, namun ilmiahnya, endurance saya rendah terhadap repetisi. Artinya kalo dengerin kuliah ‘saja’ tanpa mengalihkan ke yang lain barang sebentar, menu pusing dan ngantuk itu di-eksekusi secara otomatis. Payah yah…

Kembali ke cerita kuliah tadi, jadi di saat kuliah saya kadang browsing untuk mencari tambahan materi yang membuat saya ‘ngeh’ dengan materi yang disampaikan. Walaupun kadang-kadang baca berita ringan, namun orientasi utamanya adalah mencari materi penjelas tadi… Nah, suatu saat ada kejadian yang selalu saya ingat, yaitu Pak Dosen menyampaikan ketidak-senangannya jika ada aktivitas lain ketika beliau mengajar. Nutup laptop sampe klik !

Yah itu pesan beliau, dan pesan itu jadi peringatan pertama sekaligus terakhir bagi saya untuk memberikan respek dalam bentuk seperti itu (Sungguh, saya berusaha menunjukkan respek saya dengan berusaha menjauhi ‘menu utama’ dan bisa menjelaskan lebih mudah berkaitan sama materi).

Payahnya lagi, waktu UAS, saya agak nervous dan ‘kelupaan’ ada batasan waktu dalam UAS, sehingga hampir semua konsep yang ingin ditulis cuman teronggok di fotokopian diktat. Waktu itu saya berpikir masa saya harus ngumpulin dua diktat besar ini. Maka setengah putus asa dan berharap, saya menanyakan apa yang harus saya lakukan dengan kondisi begini. Pak Dosen menjawab bahwa lihat nanti lah (gembira karena masih ada harapan).

Dan kembali ke hari jum’at kemarin, terkejut juga karena nilai D itu ada di samping nilai saya saja di kelas angkatan. Ha ! Berusaha saya menemui Pak Dosen dan menanyakan apa yang terjadi, yah UAS saya yang paling jelek. Tapi, saya merasa sudah menyampaikan masalah non-teknis kemarin setelah UAS. PArahnya lagi, sebagian besar konsep jawabannya ngga berhasil saya temukan. Ya Allah, mudahkanlah…

Berusaha saya untuk bertemu, telepon dan sms Pak Dosen untuk menyampaikan hal ini, namun ngga ada respon (yah, kan hari libur, harap maklum). Akhirnya dengan inisiatif sendiri saya berusaha mengerjakan lagi soal UAS kemarin. Kembali buka catatan dan file lama, belajar dan bertanya ke bang Denny (thanks bro). Sehingga di sela-sela review paper image dari Pak Agus ZA, saya kerjakan UAS ulang hingga dinihari (presentasi paper pagi itu juga seh). Berharap akan ada jalan lebih terang besok hari….

Siang ini setelah presentasi paper saya bertemu dengan Pak Dosen. Menyampaikan apa yang saya kerjakan. Namun beliau pada pendapat ‘pertimbangan apa yang membuat beliau berkenan memberikan kesempatan ke-2’ (catatan saya kan hilang, saudara). Nah, ketika saya usulkan bagaimana dengan keseharian saya…. Dugh !

Beliau mengatakan bahwa saya kurang respek terhadap beliau karena masalah laptop yang dulu itu (at most)… Ya Allah, masak begitu yah ! Ingin rasanya saya mengatakan bahwa saya merasa lebih respek dengan ‘buka laptop’ begitu, dan karena nasehat beliau pula, peringatan itu menjadi nasehat pertama dan terakhir, karena setelah teguran itu, seingat saya, belum pernah lagi saya buka laptop ketika beliau mengajar (yah akhirnya pusing dan ngantuk deh, hiks…).

Yah, Saudara, respek memang dapat ditunjukkan dengan berbagai macam ekspresi, namun yang terpenting adalah apakah orang yang kita berikan respek tadi mengerti dengan ekspresi yang kita sampaikan.

paling tidak saya harus lebih mengerti karakter orang lain dan menunjukkan ekspresi respek yang dimengerti. Ada harapan… keputusan final masih belum digedok ! Tapi insyaAllah, Dia akan memberikan yang terbaik, tak lebih dan tak kurang…

Note :
*Terima kasih untuk istri tercinta yang empatik dengan perasaan suami yang ‘childish’ ini, juga kepada anak-anakku yang menghibahkan waktunya untuk ‘lembur belajar’ ayahnya. Terima kasih kepada Pak Dosen yang memberikan nasehat hidup yang berharga. Juga kepada teman-teman seangkatan di Beasiswa Unggulan. Maju terus sahabat… !

Iklan

6 Tanggapan to “Respect berarti Respek”

  1. Nia Saurina Says:

    Assalamualaikum

    Mas tikno yang sabar y, mungkin karena pak D sangat suayangggggggg sekali sama mas ti, jadi Pak D pingin ketemu lagi sama mas tik.

    Atau mungkin juga 4JJI ingin meningkatkan derajat kesabaran mas tik, lewat ujian ini, seperti anak sekolah yang mau naik kelas, kan harus dikasih ujian dulu.

    otre, Chayooo

    Wassalam

    Nia

  2. s2informatics Says:

    Tidak ada kata lain lain buat kita semua, selain sabar dan pasrah…..
    Tetapi tetap harus berusaha dan semangat mas……
    Mungkin ada hikmah yang tersembunyi di balik masalah ini…….
    Keep smiling, friend……

    Wassalam,

    Firli

  3. azis Says:

    Suabar wae mas….
    masak gak pernah mengalami dilema kuliah di S1
    kul di s1 gak lulus 4x aja masih senyum2
    sooo….

  4. Martasari Widiastuti Says:

    Assalamu’alaikum Wr Wb
    sebagai saudara ….
    saya hanya meningatkan bahwa yang memberi nilai kepada kita sesungguhnya adalah Allah …. masih belum final saudara …. masih ada kesempatan untuk merubahnya jika Allah menghendaki …. mohonlah kepada Allah, semoga nilai tersebut bisa diperbaiki …. Allah maha Adil …. saya yakin pasti ada hikmah yang besar dibalik ujian yang Allah berikan pada pak tikno …. Semoga faktor manusia tidak menjadi sakit hati pak tikno …. namun yakinlah saudara Allah akan berikan yang terbaik bagi pak tikno sekeluarga …. semoga pak tikno sekeluarga diberi kesabaran dan kekuatan oleh Allah, maafkan kita yang belum bisa menjadi teman2 / saudara2 yang baik coz belum bisa bnyak bantu. Hanya doa dan semangat untuk tetap semangat dalam berjuang …. Keep Fight …. Allahu Akbar !!!
    Wassalamu’alaikum Wr Wb

  5. tutuk Says:

    yang sabar ya……ini ujian bagi mas tikno
    ya saya doakan mudah-mudahan pak D nanti bisa merubah nilainya.
    keberuntungan akan ada dikemudian hari ok
    wassalam,

  6. caktyk Says:

    Thanks teman-teman πŸ™‚

    # Mbak Nia
    Percaya kok, tapi kan akan lebih sayang kalo ketemunya di kuliah selanjutnya πŸ™‚ Semoga kita semua dijadikan bagian dari orang2 yang sabar. thanks…

    # Mas Firli
    Oke, this smile for all of us πŸ™‚ hehehe… semoga saya dapat cepat tau hikmahnya apa πŸ™‚

    # Mas Azis
    Nah itulah kenapa… kita kan S2 sekarang, bukan S1 lagi, hehehe…

    # Mbak Marta
    Jazakillah ukhti, semoga pilihan terbaik ini bisa saya ikuti dengan amalan terbaik. InsyaAllah…

    # Mbak Tutuk
    Thanks a lot…, maunya seh bukan merubah tapi menetapkan…. πŸ™‚

    Untuk semua juga, thanks meskipun komen darat ajah πŸ™‚ Maju Terus !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: